Monday, 17 February 2014

Perbedaan Tabungan Prudential Syariah dan Prudential Conventional


Perbedaan Tabungan Prudential Syariah dan Prudential Conventional

Perbankan Syariah atau Perbankan Islam (Arab: المصرفية الإسلامية al-Mashrafiyah al-Islamiyah) adalah suatu sistem perbankan yang pelaksanaannya berdasarkan hukum Islam (syariah). Pembentukan sistem ini berdasarkan adanya larangan dalam agama Islam untuk meminjamkan atau memungut pinjaman dengan mengenakan bunga pinjaman (riba), serta larangan untuk berinvestasi pada usaha-usaha berkategori terlarang (haram). Sistem perbankan konvensional tidak dapat menjamin absennya hal-hal tersebut dalam investasinya.

Prinsip Asuransi Syariah dan Asuransi Konvensional

Asuransi Syariah

  • Melakukan hanya investasi yang halal menurut hukum Islam
  • Memakai prinsip bagi hasil, jual-beli, dan sewa
  • Berorientasi keuntungan dan falah (kebahagiaan dunia dan akhirat sesuai ajaran Islam)
  • Hubungan dengan nasabah dalam bentuk kemitraan
  • Penghimpunan dan penyaluran dana sesuai fatwa Dewan Pengawas Syariah
Asuransi Konvensional
  • Melakukan investasi baik yang halal atau haram menurut hukum Islam
  • Memakai perangkat suku bunga
  • Berorientasi keuntungan
  • Hubungan dengan nasabah dalam bentuk kreditur-debitur
  • Penghimpunan dan penyaluran dana tidak diatur oleh dewan sejenis
Mari kita lihat contoh Ilustrasi Asuransi antara Prudential Syariah dengan Prudential Conventional.

Ilustrasi Prudential Syariah





 Ilustrasi Prudential Conventional




Data Nasabah pada kedua Ilustrasi di atas adalah sebagai berikut :

Tanggal Lahir Nasabah      : 26 September 2013
Jenis Kelamin Nasabah      : Laki - Laki
Status Merokok                  : Bukan Perokok
Pekerjaan Nasabah             : Bayi

Tanggal Lahir Orangtua     : 28 Maret 1980
Jenis Kelamin Orangtua    : Pria
Status Merokok                 : Perokok
Pekerjaan Orangtua          : Security

Masa Kontrak Polis           : 10 Tahun
Premi per bulan                 : Rp. 350.000
Tanggal Ilustrasi               : 13 Februari 2013

Penjelasan terhadap Nilai Investasi kedua Ilustrasi di atas adalah sebagai berikut :

Prudential Syariah

Nilai Investasi di akhir tahun ke 10 sebesar Rp.   34.973.000
Nilai Investasi di akhir tahun ke 20 sebesar Rp. 105.636.000
Nilai Investasi di akhir tahun ke 30 sebesar Rp. 399.480.000

Prudential Conventional

Nilai Investasi di akhir tahun ke 10 sebesar Rp.   39.597.000
Nilai Investasi di akhir tahun ke 20 sebesar Rp. 127.145.000
Nilai Investasi di akhir tahun ke 30 sebesar Rp. 489.297.000

Hasil Nilai Investasi akan berjalan sedemikian rupa dengan catatan jika tidak ada Penarikan Dana Tunai ( Withdrawal ) 

Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi Agen Resmi Prudential Bersertifikat dan Berlisensi Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia ( AAJI ) di bawah ini : 

H. Sihombing
Kode Agen    : 00407068
No HP           : 085716440000 / 081311386442
Pin BB           : 2A88BE74


Monday, 23 September 2013

Perbedaan Membayar Premi Asuransi Tiap Bulan dengan Single Premi

Tahukah Anda bahwa sebenarnya membayar premi asuransi tiap bulan selama 10 tahun itu sangat rugi dari sisi nilai investasi dibandingkan jika Anda langsung membayar premi asuransi untuk 10 tahun secara keseluruhan.

Pembayaran premi asuransi untuk 10 tahun secara keseluruhan dinamakan Single Premi. Atau jika istilah Bank dinamakan Deposito.

Keuntungan Nasabah jika melakukan Single Premi :

1. Nasabah tidak dipusingkan lagi untuk bayar premi tiap bulan sampai 10 tahun karena langsung dibayar tunai saat buka Asuransi

2. Nilai Investasi / Uang Tunai Nasabah ditahun ke 10 sebesar 2x lipat dari premi bulanan.

Sebagai contoh, kita lihat ilustrasi untuk Tabungan Pendidikan + Proteksi dimana Tertanggung Utama nya adalah Anak-anak
Contoh Ilustrasi :

Tertanggung Utama                    : Anak-anak
Usia ( Ulang Tahun berikutnya ): 4 tahun
Jenis Kelamin                             : Pria
Besarnya Single Premi               : Rp. 120 Juta ( langsung dibayar tunai untuk pembayaran 10 tahun ) 
                                                      atau sama dengan Rp. 1 Juta per bulan
Masa Pembayaran                      : 10 tahun

Maka, manfaat yang diperoleh si Anak sebagai Tertanggung Utama adalah :

1. Asuransi Jiwa  sebesar Rp 500 Juta
2. Santunan Sakit Kritis sebesar Rp 160 Juta ( Dicover sampai anak berusia 18 tahun )
3. Santunan Kecelakaan sebesar Rp 160 Juta ( Dicover sampai anak berusia 55 tahun )
4. Plafon Biaya Kamar Rumah Sakit sebesar Rp 500.000 per hari untuk Rawat Inap
    ( Dicover sampai anak berusia 55 tahun )
5. Hasil Investasi sebesar Rp 325.938.000

Lihat Ilustrasi Single Premi 120 Juta di bawah ini :





Sekarang bandingkan hasil yang akan Anda dapat jika Anda membayar premi setiap bulan dimana Anda hanya mendapatkan Nilai Tunai sebesar Rp 112.294.000 :




Jika Anda tertarik untuk berinvestasi Single Premi di Asuransi Prudential, silakan menghubungi Agent Resmi Prudential Bersertifikat dan Berlisensi Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia ( AAJI ) di bawah ini :

H. Sihombing
No HP   : 081376472345 / 085716440000
Pin BB  : 2670F0CE
Email    : asuransi@prudential-fpone.com

Wednesday, 18 September 2013

Ahmad Dhani Berharap Asuransi Tanggung Semua Biaya Perawatan Dul

Anak Ahmad Dhani Kecelakaan

Ahmad Dhani Berharap Asuransi Tanggung Semua Biaya Perawatan Dul

Ahmad Dhani Berharap Asuransi Tanggung Semua Biaya Perawatan Dul
Tribun Jakarta/JEPRIMA
Ahmad Dhani memberikan keterangan kepada para awak media setelah menjalani pemeriksaan selama kurang lebih 2 jam di Kantor Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda Metro Jaya, Pancoran, Jakarta Selatan, Rabu (11/9/2013) malam. Pemeriksaan ini terkait kecelakaan yang dialami anaknya, Ahmad Abdul Qodir Jaelani (Dul) di Jalan Tol Jagorawi KM 8+200 pada Minggu (8/9/2013) dini hari lalu yang mengakibatkan 6 orang meninggal dan belasan lainnya luka-luka. (Tribun Jakarta/Jeprima) 
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Willem Jonata

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ahmad Dhani merasakan betul manfaat asuransi. Ia tak perlu pusing menutupi biaya yang mesti dikeluarkannya untuk perawatan Ahmad Abdul Qodir Jaelani alias Dul yang kini masih dirawat di rumah sakit setelah mengalami kecelakaan di Tol Jagorawi, 8 September 2013.

"Alhamdulillah, biaya perawatan Dul di-cover asuransi Prudential," ucap Dhani, di Rumah Sakit Pondok Indah (RSPI) Jakarta Selatan.

Karena itu, ia tak perlu pusing kepala untuk menutupi semuanya. Apalagi, biaya yang dikeluarkan tidak sedikit jumlahnya.

Ia berharap perusahaan asuransi tersebut menutupi semua biaya hingga putra bungsunya dari pernikahannya bersama Maia Estianty itu, sembuh total.

"Mudah-mudahan asuransi meng-cover semuanya," ucapnya.

Namun, ia memberikan catatan asuransi itu diperuntukkan bagi perawatan anaknya. Bukan termasuk perawatan korban lain yang mengalami luka, yang juga harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit.

"Kalau yang lain tanggung jawab saya sendiri," ucapnya.

Sumber :  Ahmad Dhani Menggunakan Asuransi Prudential

Wednesday, 28 August 2013

Perbedaan Single Premi di Prudential vs Deposito di Bank

Berikut adalah kerugian jika Anda berinvestasi di Deposito :

  1. Bila dana dicairkan sebelum jatuh tempo, maka akan kena penalti sejumlah tertentu.
  2. Bila sertifikat deposito hilang, maka penemunya bisa mencairkannya dengan mudah.
  3. Nilai Deposito Akhir Anda sangat kecil
  4. Suku bunga Deposito paling minim adalah 5.5% per tahun dan maksimum 7.5% per tahun
  5. Tidak memberikan Santunan Jiwa ( jika meninggal ), Santunan Uang Tunai Sakit Sritis, biaya pengobatan RS / Operasi dan sebagainya.
Mari kita lihat Simulasi Deposito Berjangka pada Bank, dengan ketentuan sebagai berikut :
  1. Nilai Deposito Awal               : Rp 240.000.000
  2. Lama Menabung                    : 10 tahun ( sama dengan 120 bulan )
  3. Bunga per tahun                     : 5.5%
Maka hasil yang Anda dapat adalah : Rp. 415.458.340,10



Sekarang mari kita lihat simulasi ke -2 jika suku bunga nya 7.5% per tahun dengan ketentuan sebagai berikut :


  1. Nilai Deposito Awal               : Rp 240.000.000
  2. Lama Menabung                    : 10 tahun ( sama dengan 120 bulan )
  3. Bunga per tahun                     : 7.5%
Maka hasil yang Anda dapat adalah : Rp. 506.895.512,91



Sekarang mari kita bandingkan jika Anda melakukan investasi di Asuransi Prudential dengan Single Premi / Sekali Setor.

Keuntungan yang Anda dapat kan dari Prudential adalah :

  1. Prulink Assurance Account, Jika nasabah meninggal, akan mendapat santunan dana sebesar Rp. 450.000.000 sampai usia 99 tahun.
  2. Pru Early Stage Crisis Cover, Jika Jika nasabah mengalami salah satu dari 34 penyakit kritis dalam stadium yang berbeda , akan mendapat santunan dana sebesar Rp.150.000.000 sampai usia 70 tahun.
  3. Pru Personal Accident Death & Disablement, Jika Nasabah meninggal atau cacat tetap karena kecelakaan, akan mendapat santunan dana sebesar Rp.50.000.000 sampai usia 70 tahun.
  4. Pru Hospital & Surgical, Memberikan santunan Rawat Inap ( min.3 hari ), Operasi, ICU, Obat-obatan, Biaya Dokter Umum & Spesialis dengan biaya kamar per hari sebesar Rp.1.000.000 sampai nasabah berusia 75 tahun.

Itu adalah Manfaat Proteksi Kesehatan yang diberikan Asuransi Prudential. Sementara investasi Deposito tidak memberikan manfaat seperti di atas.

Mari kita lihat hasil investasi yang akan Anda dapat dengan ketentuan sebagai berikut :
  1. Nilai Deposito Awal               : Rp 240.000.000
  2. Lama Menabung                    : 10 tahun ( sama dengan 120 bulan )
  3. Bunga per tahun                     : 15%
Maka hasil yang Anda dapat adalah : Rp. 603.120.000















Saturday, 20 July 2013

9 Perusahaan Asuransi Paling Terkenal Di Indonesia Versi MarkPlus

Lembaga Marketing dan Sosial Research MarkPlus Insight kembali mengumumkan hasil risetnya terkait dengan layanan asuransi di tanah air. Dalam laporannya kali ini, MarkPlus menetapkan 8 kategori yang diberikan kepada sejumlah pelaku industri asuransi di tanah air.

Riset yang dilakukan pada 26 April hingga 4 Mei 2013 ini melibatkan responden di enam kota, yakni Jakarta, Bandung, Surabaya, Semarang, Medan, dan Makassar mencatatkan perusahaan asuransi asing Prudential mendominasi dari delapan kategori penilaian.

Prudential tercatat memperoleh enam kategori terbaik dalam pemilihan kali ini. Keenam kategori tersebut adalah Most Popular Brand of Health Insurance, Best Customer Choice of Health Insurance, Most Popular Brand of Unit Link Insurance, Best Customer Choice of Unit Link Insurance, Most Popular Brand of Life Insurance, dan Best Customer Choice of Life Insurance.

Perusahaan asuransi berskala dunia ini hanya menyisakan dua kategori untuk pelaku usaha lainnya. Dua kategori itu diperoleh oleh Garda Oto/Asuransi Astra Buana dengan kategori Most Popular Brand of Car Insurance dan Best Customer Choice of Car Insurance.

“Survei yang dilakuan MarkPlus Insight dengan metode random sampling yang diterapkan pada para pemilik telepon rumah di Indonesia (white pages) dengan total responden yang berhasil dijaring dalam survei ini berjumlah 600 orang,” ungkap Partner at MarkPlus Counsulting, Taufik di Jakarta, Kamis (30/5/2013)

Taufik berharap munculnya hasil riset kali ini bakal membantu masyarakat dan pelaku usaha dalam mengembangkan industri asuransi nasional. Setidaknya terdapat empat tujuan yang ingin disasar dari riset yang melibatkan responden dari kelas menengah ini yaitu pertama, mengidentifikasi brand awareness dan brand usership kategori asuransi di tanah air. Kedua, memahami faktor-faktor yang menjadi pertimbangan nasabah dalam memilih brand asuransi.

Dua tujuan lainnya adalah memahami tujuan nasabah dalam menggunakan atau membuka asuransi. Serta mengidentifikasi sumber-sumber informasi yang diperoleh nasabah ketika membuka asuransi.
Berikut adalah daftar lengkap perusahaan asuransi terpilih hasil survei Markplus:

Most Popular Brand of Health Insurance
1. Prudential
2. Manulife Indonesia
3. Axa Mandiri Financial Service

Best Costumer Choice of Health Insurance
1. Prudential
2. Axa Mandiri Mandiri Financial Service
3. AIA Financial

Most Popular Brand of Unit Link Insurance
1. Prudential
2. Axa Mandiri Financial Service
3. Manulife Indonesia

Best Costumer Choice of Unit Link Insurance
1. Prudential
2. Axa Mandiri Financial Service
3. AIA Financial

Most Popular Brand of Car Insurance
1, Garda Oto/Asuransi Astra Buana
2. Autocilin/ Adira Insurance
3. Sinarmas/Simas

Best Costumer Choice of Car Insurance
1. Garda Oto
2. Sinarmas
3. Autocilin

Most Popular Brand of Life Insurance
1. Prudential
2. Bumiputera
3. Jiwasraya

Best Constumer Choice of Life Insurance
1. Prudential
2. Axa Mandiri Financial Service
3. Bumiputera.

(source liputan6.com)

Tuesday, 16 July 2013

Hitung Kebutuhan Asuransi Anda

KOMPAS.com - Kebanyakan orang Indonesia kekurangan proteksi asuransi. Istilah pada dunia asuransi adalah underinsurance. Alias proteksi yang dimiliki tidak mencukupi kebutuhan sebenarnya. Ujungnya, tentu akan kesulitan. Harapan besar bahwa asuransi akan menghapuskan kesulitan ketika kepala keluarga tidak mampu memberi nafkah, sirna sudah.

Banyak contohnya. Evita Carolina (39) warga Bekasi dengan tiga anak mengatakan membayar premi asuransi jiwa sebesar Rp 2,8 juta per tahun. Uang pertanggungannya hanya sebesar Rp 50 juta. ”Memang kurang, tetapi belum ada rencana menambah lagi,” ujar ibu rumah tangga yang baru melahirkan anak ketiganya ini. Nurul Pramudya (36) lebih ekstrim lagi. Dia hanya memiliki asuransi pendidikan sebesar Rp 10 juta untuk kedua anaknya. Padahal, sejak suaminya meninggal 9 tahun lalu, dia berjuang sendirian untuk menghidupi kedua anaknya. Jika terjadi risiko meninggal, kedua anaknya hanya akan menerima uang pertanggungan sebesar Rp 10 juta saja. ”Dahulu jumlah itu sudah terlihat besar, tetapi sekarang kecil sekali,” kata Nurul mengakui kecilnya uang pertanggungan yang dia miliki.

Sementara itu, Fitri Dharmayanti (40) seorang wanita pengusaha di Bengkulu mengatakan dia dan suaminya memiliki asuransi jenis unit link dengan uang pertanggungan Rp 500 juta. Tampaknya uang pertanggungan ini besar. Dengan biaya hidup sebesar Rp 8 juta per bulan, uang pertanggungan ini dapat memenuhi kebutuhan keluarganya selama lima tahun. Setelah lima tahun uang akan habis sementara anaknya yang masih bersekolah di sekolah dasar belum dapat memenuhi biaya hidupnya sendiri.

Mengapa kebanyakan nasabah asuransi tidak memiliki proteksi yang mencukupi kebutuhannya ? Hal itu terjadi karena nasabah sendiri tidak mengetahui berapa sebenarnya proteksi yang dibutuhkan. Sebagian besar orang membeli asuransi berdasarkan promosi dari agen asuransi, bukan kesadaran mencukupi kebutuhan proteksi. Jadi, antara kebutuhan dan proteksi yang ditawarkan tidak sebanding.

Selain kurang informasi dari agen asuransi, nasabah juga tidak memiliki kemampuan untuk menghitung berapa kebutuhan proteksinya. Padahal, caranya cukup mudah lho.

Cara menghitung
Ada beberapa metode digunakan untuk menghitung kebutuhan asuransi. Cara pertama adalah menghitung berdasarkan human live value. Metode ini menentukan uang pertanggungan asuransi berdasarkan berapa penghasilan dari seorang kepala keluarga yang disetahunkan. Penghasilan ini dikalikan dengan seberapa lama kira-kira dana tersebut diperlukan oleh ahli waris hingga ahli waris dapat mandiri. Biasanya, yang digunakan patokan untuk waktu ahli waris dapat mandiri adalah seusai dia selesai kuliah. Asumsinya, si anak atau ahli waris itu selesai kuliah dapat bekerja dan menghidupi dirinya sendiri. Uang pertanggungan ini tidak memperhitungkan pertumbuhan dana jika disimpan di bank atau instrumen investasi lainnya.

Jadi misalnya sebuah keluarga Budi dengan ayah, Budi yang berusia 35 tahun, memiliki seorang istri yang tidak bekerja dan seorang anak yang berusia lima tahun. Penghasilan si ayah sebesar Rp 5 juta per bulan. Maka berdasarkan metode human live value, uang pertanggungan asuransi yang diperlukan adalah sebesar Rp 5 juta x 12 x 20 tahun = Rp 1,2 miliar.

Mengapa dikalikan dengan 20 tahun? Waktu 20 tahun itulah merupakan masa yang harus dilindungi. Mengingat si anak saat ini berusia 5 tahun, dalam waktu 20 tahun mendatang dia akan berusia 25 tahun, diharapkan sudah selesai kuliah dan dapat membiayai dirinya sendiri sehingga tidak tergantung lagi dari uang pertanggungan asuransi.

Sehingga keluarga ini memerlukan uang pertanggungan asuransi sebesar Rp 1,2 miliar untuk memproteksi keperluan keluarga selama 20 tahun.

Semakin tinggi uang pertanggungan, semakin tinggi pula premi yang harus dibayarkan. Jika untuk mendapatkan uang pertanggungan sebesar Rp 1,2 miliar premi yang harus dibayarkan terasa mahal, cara ini dapat diganti dengan memperhitungkan pengeluaran, bukan pendapatan.

Seumpama dari pendapatan sebesar Rp 5 juta tersebut ternyata biaya kebutuhan keluarga sebesar Rp 4 juta, maka perhitungannya menjadi Rp 4 juta x 12 x 20 tahun = Rp 960 juta.

Masih ada cara untuk menghitung berapa besarnya uang pertanggungan asuransi, cara kedua adalah income based value (IBV). Dengan cara ini, perlu dihitung berapa dana yang harus diinvestasikan agar dapat menghasilkan uang sebesar Rp 4 juta sebulan seperti contoh di atas untuk memenuhi kebutuhan keluarga tersebut. Dana itu harus diinvestasikan pada instrumen investasi yang aman. Saat ini, instrumen investasi yang dikategorikan aman dan memberikan imbal hasil di atas bunga perbankan adalah obligasi negara Indonesia (ORI).

Saat ini, tingkat suku bunga ORI sebesar 7,3 persen, dikurangi pajak 20 persen sehingga didapatkan hasil netto sebesar 5,84 persen per tahun atau 0,48 persen per bulan. Nah, untuk mendapatkan dana sebesar Rp 4 bulan sebagai pengeluaran per bulan dengan bunga sebesar 0,48 persen per bulan berapa besarnya investasi yang diperlukan ?

Cara perhitungannya, Rp 4 juta/0,48 persen = Rp 840 juta. Sehingga idealnya keluarga ini memiliki dana investasi bebas risiko sebesar Rp 840 juta untuk dapat memenuhi pengeluaran sebesar Rp 4 juta per bulan. Dari mana dana investasi ini ? Dana ini didapatkan dari uang pertanggungan asuransi. Sehingga dengan metode IBV, keluarga ini memerlukan uang pertanggungan sebesar Rp 840 juta agar dapat menghasilkan dana sebesar Rp 4 juta per bulan jika pencari nafkah meninggal.

Sementara cara ketiga disebut survival based value (SBV). Dengan cara ini, dihitung berapa utang yang harus dilindungi dan berapa penghasilan yang harus dilindungi sampai orang yang ditinggalkan (disebut survival) dapat bekerja. Metode ini mengasumsikan orang yang ditinggalkan akan bekerja dan akan bekerja setelah ditinggalkan kepala keluarga.

Jika menggunakan metode ini, ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Semakin besar uang yang harus dibayarkan, semakin besar pula uang pertanggungan asuransi yang dibutuhkan. Selain itu, semakin tinggi pendidikan dan semakin banyak pengalaman yang dimiliki pasangan, diasumsikan semakin cepat pula dia mendapatkan pekerjaan. Faktor lain yang harus diperhitungkan juga adalah berapa besarnya dana darurat yang dimiliki keluarga tersebut.

Misalnya keluarga Danu (38). Danu berpenghasilan Rp 10 juta per bulan. Si istri, Ani berusia 30 tahun dan baru dua tahun tidak bekerja. Sebelumnya istri bekerja dengan gaji Rp 4 juta per bulan. Keluarga Budi membeli rumah dengan cara mencicil. Rumah tersebut berharga Rp 400 juta dan sisa utang mereka Rp 300 juta. Cicilan per bulan sebesar Rp 1,5 juta. Total pengeluaran keluarga ini Rp 8 juta per bulan. Keluarga Danu memiliki dana darurat sebesar Rp 50 juta. Berapa besar perlindungan yang harus dimiliki keluarga tersebut ?

Dengan memperhitungkan dana darurat yang sebesar Rp 50 juta, dengan pengeluaran Rp 8 juta berarti dana tersebut dapat digunakan untuk menutup biaya hidup sehari-hari selama 6 bulan.
Selain itu, dengan memperhitungkan pengalaman kerja serta keahlian istri, diasumsikan dia akan mudah mendapatkan pekerjaan lagi setelah suaminya meninggal. Jika penghasilan terakhir Rp 4 juta, diperkirakan penghasilan istri jika bekerja kembali ada kenaikan 10 persen, berarti potensi pendapatan keluarga ini sebesar Rp 4,4 juta per bulan.

Ketika mengikat akad kredit, biasanya kreditor diasuransikan seumur kredit tersebut. Jadi jika meninggal, sisa tagihan KPR akan dilunasi oleh uang pertanggungan dari asuransi kredit tersebut. Jadi pengeluaran sebesar Rp 1,5 juta untuk membayar cicilan KPR tidak ada lagi. Biaya hidup turun dari Rp 8 juta – Rp 1,5 juta menjadi Rp 6,5 juta. Dengan pendapatan istri yang sebesar Rp 4,4 juta dan pengeluaran sebesar Rp 6,5 juta, keluarga ini masih kekurangan pendapatan sebesar Rp 2,1 juta per bulan. Jadi Rp 2,1 x 12 x 20 tahun = Rp 504 juta. Nah, Rp 504 juta inilah yang merupakan kekurangan yang harus ditutupi dari uang pertanggungan asuransi. Dengan uang pertanggungan asuransi sebesar Rp 504 juta ditambah dengan istri yang bekerja kembali, maka keluarga ini tetap dapat memenuhi kebutuhan sehari-harinya jika pencari nafkah utama meninggal dunia.

Hasil perhitungan beberapa metode ini berbeda. Pilihlah yang sesuai dengan keadaan keuangan Anda. Jangan cemas dahulu jika hasil perhitungan menyebutkan Anda memerlukan uang pertanggungan hingga miliaran rupiah. Carilah jenis asuransi yang sesuai dengan kantong.

Untuk mendapatkan uang pertanggungan sebesar Rp 1 miliar, jika Anda masih muda sekitar umur 30an dan sehat, biayanya hanya sekitar Rp 3 juta per tahun jika mengambil asuransi berjangka atau term life. Tentu uang premi akan semakin mahal jika usia bertambah dan kesehatan terganggu.
Oleh sebab itu, janganlah menunda membeli proteksi, demi keluarga tercinta.

 
 
 “Only by listening can we truly understand what people need and only by understanding what people need are we able to deliver the right products and services.”


Prudential
Always Listening Always Understanding

Monday, 15 July 2013

ILUSTRASI PRU MY CHILD ( PMC ) ASURANSI PRUDENTIAL

PROTEKSI PMC :




 HASIL INVESTASI :



Penjelasan  :

1. Usia Nasabah saat buka Asuransi PMC : 28 Tahun
2. Usia Kehamilan saat Nasabah buka Asuransi PMC  : 28 Minggu
3. Pekerjaan Nasabah : Ibu Rumah Tangga
4. Nasabah tidak merokok
5. Premi per bulan : Rp. 600.000
6. Masa pembayaran : 10 tahun
7. Kategori PMC : Plan 1

maka, Manfaat PMC yang diperoleh adalah sebagai berikut :

a. Tertanggung Utama I ( dalam hal ini calon bayi ) meninggal dunia atau menderita cacat total tetap setelah dilahirkan, maka akan mendapatkan santunan uang tunai sebesar Rp 147.000.000

b. Manfaat cacat bawaan lahir pada bayi, max sampai usia 5 tahun akan mendapat santunan sebesar Rp. 50.000.000

c. Perawatan bayi di inkubator/ICU/HDU SEGERA setelah bayi dilahirkan ( minimal perawatan 3 hari ), akan mendapat santunan sebesar Rp. 250.000 per orang/hari

d. Tertanggung Utama II ( Ibu hamil ) ATAU Tertanggung Utama I ( dalam hal ini calon bayi ) dan Tertanggung Utama II ( Ibu hamil ) meninggal dunia yang terjadi bersamaan di masa kehamilan, akan mendapat santunan sebesar Rp. 50.000.000

e. Pru Parent Payor 33 : Jika ayah/ibu mengalamai salah satu dari 33 kriteria sakit kritis setelah 90 hari ( 3 bulan ), maka Prudential akan membayarkan premi selanjutnya hingga anak berusia 18 tahun atau 25 tahun ( Tergantung mana yang dipilih )

Keterangan lebih lanjut, hubungi Agent Resmi Prudential yang Bersertifikat dan Berlisensi AAJI di bawah ini :

H. Sihombing

HP         : 081376472345
BB         : 2670F0CE
Email    : asuransi@prudential-fpone.com